Kripik Pedas Itik Bali

"Bli, jangan bandingin bukunya dengan buku top ya" itulah satu kalimat itik yang diulang-ulangnya ketika saya akan kritik sedikit. Memang membuat buku bergenre sama maka akan selalu dibayang-bayangi dengan buku top lain. Apalagi pembaca yang mereview masih selalu terngiang-ngiang dengan buku lain yang memang ditulis oleh author kaliber lalu menjelek-jelekkan sebuah buku yang ditulis author pemula. Jangankan buku, kadang orangtua sering membandingkan kemampuan anaknya dengan kemampuan anak tetangga, atau parahnya kucing tetangga. Tetapi suatu hari saya membaca sebuah artikel pendidikan di luar negeri, mereka tidak pernah membandingkan kemampuan satu murid dengan yang lainnya tetapi membandingkan kemampuan murid dengan kemampuannya sendiri di masa lalu. Jika terjadi peningkatan, maka seorang siswa patut diberikan penghargaan, jika menurun, maka diberikan semangat untuk tetap menaikkannya di masa depan.

Seperti kata ahli matematika John Nash bahwa "keberhasilan sebuah kelompok bukan hanya ditentukan kontribusi individu terhadap kelompoknya, tetapi juga keberhasilan individu mengembangkan dirinya sendiri". Maka dari itu, bandingkanlah sesuatu dengan dirinya sendiri di masa lalu guna meraih kemampuan maksimal setiap individu.

Back to review Itik Bali, penulisnya sudah tak asing lagi di telinga para Blogger dan terutama saya. Selain sama-sama berasal dari Bali, saya punya kekaguman tersendiri dengan tulisan-tulisan yang dibuatnya karena tak banyak remaja di bawah 20 tahun bisa mengungkapkan isi hatinya melalui blog dengan cara super kocak. Dulu saya ketika seumuran Itik Bali belum bisa mengungkapkan hati di blog, wajar karena internet juga belum ada dan mesin tikpun saya gak ngerti cara makenya :D .



Saat pulkam, saya langsung membeli buku Itik Bali. Sebenernya nitip sih, untung yang dititipin gak salah jadi beli buku ternak. Karena lagi males mikir, pengen tiduran aja di rumah, maka saya langsung aja deh kasi reviewnya.

Karakter tulisan

Tanpa melihat halaman belakang, saya langsung tau siapa yang menulis buku ini. Sama seperti menebak penyanyi hanya dari suaranya. Gaya renyah si itik tak terelakkan lagi disini, cuma dia remaja putri yang punya jenis tulisan seperti ini. Boleh dibilang antara blognya dan bukunya singkron, untuk penulis komedi baru maka karakter adalah modal awal agar tak ikut-ikutan yang sudah top karena follower biasanya selalu di bawah bayang-bayang orang yang di-follownya.

Cerita

Saya suka beberapa cerita tetapi kurang suka bagian analisis dan tips-tipsnya. Menurut saya pribadi si Itik masih bisa mengeksplor banyak hal di sekitarnya. Dan yang bikin saya pribadi kurang sreg adalah cerita-cerita kocak di awal malah dikaburkan dengan analisis cinta yang memenuhi buku di bagian akhir BAB. Sebagai orang yang kenal Itik Bali, saya lebih suka melihatnya sebagai remaja putri yang punya sudut pandang "galau" dari pandangannya terhadap lingkungan ketimbang remaja putri yang banyak bicara cinta-cintaan. Bukannya tidak boleh ada cinta, tetapi hal itu terlalu umum untuk digali. Itik sama sekali belum bercerita lebih banyak tentang adiknya, ortunya, kegiatannya, sekolahnya, dan teman-temannya. Agak kecewa karena temannya hanya menjadi figuran di awal cerita tentang nyasar ke BALI TV. Dulu saya pernah membaca tulisan Itik tentang PILKADA dan diramunya dengan sangat manis, unik karena membaca bagaimana anak remaja memandang sebuah gawe orang-orang dewasa. Tulisan seperti itu pasti cocok untuk semua umur.

Joke

Khas dan hanya milik Itik Bali, joke-nya memang gak ada yang nyamain. Tetapi saya masih yakin si Itik masih bisa lebih lucu dari bukunya yang pertama ini. Entah kenapa saya merasa garing ketika membaca setiap ilustrasi yang ditampilkan di buku. Saya yakin jika dialog yang dibuat si itik untuk ilustrasi begitu lucu, cuma akhirnya melemah ketika digambar karena mimik karakter komiknya gak nendang untuk jokenya. Ekspresi marah, kesal, sirik, sayangnya nampak flat semua di ilustrasi, saya sampai protes berat ke itik dan memintanya untuk lebih cerewet ke ilustrator di buku selanjutnya.

Favorit

Saya suka BAB I dan BAB II, terutama tentang MOS dan Selebritis to Be karena ceritanya tentang lingkungan sekitar. Sisanya yang full cinta saya kurang suka, ini hanya pendapat pribadi karena mungkin saya terlanjur banyak membaca dan menonton joke tentang cinta. Satu lagi yang saya suka baca adalah bagian Kata Pengantar, btw siapa sih Putu Hadi Purnama Jati itu tik? dia pasti cowo ganteg mandraguna yang baik hati dan suka melolong (lho?).

Final words

Itik adalah penulis berpotensi besar, jika ingin tahu tinggal baca saja buku perdananya yang berjudul "Itik Bali". Bagi yang pertama membacanya dijamin ngakak dan sedikit lupa tentang utang di warteg sebelah rumah. Tetapi kemungkinan bagi yang sering baca blognya, seperti saya, sepertinya akan kurang sreg dengan kurang dieksplornya lagi cerita lain selain cinta-cintaan. Untuk selanjutnya, moga benang merahnya diperjelas lagi dan setiap cerita bikin tiap orang kena "jleb, jleb, jleb".

By the way, ini hanya pendapat pribadi saja dari seorang pembaca buku komedi dan penggemar standup comedy. Saya mungkin cuma bisa berkomentar saja dan belum tentu bisa membuat buku bagus seperti Itik. Intinya, awas kalian yang baca review ini gak beli! trus ngapain baca sampe habis coba!

Salam tercihuy, saya mau tiduran lagi..

NB : Buat Itik, maaf belum ada fotoku sama buku, takut ada cewe yang naksir sampe kejang-kejang..

1 comment

  1. Yang naksir itu pasti aslinya sudah ayanan parah.
    Btw, thanks bgt atas reviewnya ya Bli.
    thanks juga udah ga membanding2kan aku sama Olla Ramlan dan Jessica Iskandar :)

    ReplyDelete

Powered by Blogger.