Siapa yang tak kenal Bali? salah satu provinsi di Indonesia ini bahkan lebih terkenal di luar negeri ketimbang Negara Indonesia sendiri. Saya sebagai orang Bali yang sudah berkelana dari ujung Jawa sampai ujung pulau Timor memang tidak menemukan karakteristik daerah yang unik seperti Bali. Ini bukanlah sebuah pendapat subyektif oleh karena Bali adalah kampung halaman saya melainkan sebuah fakta yang setiap orang juga sudah mengetahuinya. Memang setiap daerah di Indonesia memiliki keunikan sendiri, tetapi Bali mungkin adalah salah satu yang terunik karena Bali adalah satu-satunya Provinsi dimana Budaya dan Agama tidak bisa dipisahkan satu sama lain. Budaya Bali yang unik inilah secara langsung sangat mempengaruhi perkembangan pariwisata di Pulau Seribu Pura ini.
Seperti kata pepatah “ada gula ada semut”, kue pariwisata di Bali menjadi bagian yang banyak dikerubuti semut-semut yang ingin merasakan gulanya. Dengan banyaknya wisatawan lokal maupun mancanegara membuat orang berlomba-lomba meraup keuntungan sebanyak-banyaknya mulai dari pedagang sampai investor, dari Orang lokal sampai pendatang. Masyarakat Bali memang dikenal ramah terhadap pendatang, ini bisa dibuktikan dengan 2 bom yang sempat meluluhlantakkan Bali. Setelah 2 bom yang menjadi sorotan dunia, Masyarakat Bali baru sadar bahwa tidak semua orang ke Bali berniat baik seperti yang sebelumnya mereka pikirkan. Dengan kejadian luar biasa tersebut, Bali mulai berbenah terutama bagian registrasi penduduk yang diketatkan oleh Kepala Lingkungan setempat dimana setiap pendatang yang masuk ke Bali harus berKTP dan harus jelas bekerja sebagai apa.
Pun begitu, masalah tidak menjadi lebih sederhana. Dengan kepemilikan KTP, justru pendatang tanpa skill semakin menjadi-jadi datang ke Bali dengan tujuan mengadu nasib. Dan ketika para pendatang ini tidak dapat merasakan manis gula di Bali, mereka menjadi semut-semut yang mabuk gula dengan menjadi pencopet, perampok, maupun garong. Inilah yang membuat miris karena hampir setiap saya pulang kampung selalu mendengar kejahatan yang dilakukan oleh penduduk pendatang yang kebanyakan disebabkan alasan finansial. Tidak hanya pendatang dengan skill rendah yang menjadi masalah, para investor juga semakin mengancam eksistensi Bali sebagai salah satu Pulau terindah di dunia. Tanah-tanah di Bali begitu saja dibeli untuk keperluan investasi pariwisata disertai dengan lemahnya orang Bali untuk mempertahankan tanahnya sendiri karena keperluan uang.
Dalam perspektif lain, orang luar tidaklah mutlak menjadi sumber masalah di Bali. Banyaknya pendatang dengan maksud mengadu nasib juga adalah akibat dari Orang lokal yang tidak bisa menjadi tuan rumah di tanahnya sendiri. Bisa dilihat bahwa hampir 90% pedagang di Bali didominasi justru oleh orang Non-Bali sementara orang lokal kurang bisa memaksimalkan perannya. Ironisnya, orang lokal semakin menghancurkan citranya sendiri dengan membangun begitu banyak kafe-kafe liar. Belum lagi AIDS di Bali yang mengkhawatirkan dimana secara keseluruhan berjumlah 4.314 orang, 369 orang di antaranya sudah meninggal akibat langsung dari pendirian kafekafe liar tersebut. Secara Nasional, Bali menempati peringkat 2 untuk jumlah penderita AIDS di bawah Papua. Sebuah peringkat yang tak patut dibanggakan oleh masyarakat Bali.
Bali memang surga terbuka untuk semua orang di dunia ini, entah itu yang berniat baik ataupun yang berniat buruk. Tetapi hendaknya keindahan di Bali ini tidak hanya dipandang dari segi dolar dan rupiah. Apa jadinya jika tanah di Bali digunakan melulu untuk Villa, Hotel, Pusat Belanja? apa jadinya Bali yang dikepung AIDS? Bali bukan lagi menjadi Pulau Surga tetapi Pulau Neraka akibat ulah masyarakatnya sendiri, Bali sedang menggali kuburnya sendiri jika tidak dihentikan dari sekarang!
Sumber : Kompas.com, beritabali.com
Seperti kata pepatah “ada gula ada semut”, kue pariwisata di Bali menjadi bagian yang banyak dikerubuti semut-semut yang ingin merasakan gulanya. Dengan banyaknya wisatawan lokal maupun mancanegara membuat orang berlomba-lomba meraup keuntungan sebanyak-banyaknya mulai dari pedagang sampai investor, dari Orang lokal sampai pendatang. Masyarakat Bali memang dikenal ramah terhadap pendatang, ini bisa dibuktikan dengan 2 bom yang sempat meluluhlantakkan Bali. Setelah 2 bom yang menjadi sorotan dunia, Masyarakat Bali baru sadar bahwa tidak semua orang ke Bali berniat baik seperti yang sebelumnya mereka pikirkan. Dengan kejadian luar biasa tersebut, Bali mulai berbenah terutama bagian registrasi penduduk yang diketatkan oleh Kepala Lingkungan setempat dimana setiap pendatang yang masuk ke Bali harus berKTP dan harus jelas bekerja sebagai apa.
Pun begitu, masalah tidak menjadi lebih sederhana. Dengan kepemilikan KTP, justru pendatang tanpa skill semakin menjadi-jadi datang ke Bali dengan tujuan mengadu nasib. Dan ketika para pendatang ini tidak dapat merasakan manis gula di Bali, mereka menjadi semut-semut yang mabuk gula dengan menjadi pencopet, perampok, maupun garong. Inilah yang membuat miris karena hampir setiap saya pulang kampung selalu mendengar kejahatan yang dilakukan oleh penduduk pendatang yang kebanyakan disebabkan alasan finansial. Tidak hanya pendatang dengan skill rendah yang menjadi masalah, para investor juga semakin mengancam eksistensi Bali sebagai salah satu Pulau terindah di dunia. Tanah-tanah di Bali begitu saja dibeli untuk keperluan investasi pariwisata disertai dengan lemahnya orang Bali untuk mempertahankan tanahnya sendiri karena keperluan uang.
Dalam perspektif lain, orang luar tidaklah mutlak menjadi sumber masalah di Bali. Banyaknya pendatang dengan maksud mengadu nasib juga adalah akibat dari Orang lokal yang tidak bisa menjadi tuan rumah di tanahnya sendiri. Bisa dilihat bahwa hampir 90% pedagang di Bali didominasi justru oleh orang Non-Bali sementara orang lokal kurang bisa memaksimalkan perannya. Ironisnya, orang lokal semakin menghancurkan citranya sendiri dengan membangun begitu banyak kafe-kafe liar. Belum lagi AIDS di Bali yang mengkhawatirkan dimana secara keseluruhan berjumlah 4.314 orang, 369 orang di antaranya sudah meninggal akibat langsung dari pendirian kafekafe liar tersebut. Secara Nasional, Bali menempati peringkat 2 untuk jumlah penderita AIDS di bawah Papua. Sebuah peringkat yang tak patut dibanggakan oleh masyarakat Bali.
Bali memang surga terbuka untuk semua orang di dunia ini, entah itu yang berniat baik ataupun yang berniat buruk. Tetapi hendaknya keindahan di Bali ini tidak hanya dipandang dari segi dolar dan rupiah. Apa jadinya jika tanah di Bali digunakan melulu untuk Villa, Hotel, Pusat Belanja? apa jadinya Bali yang dikepung AIDS? Bali bukan lagi menjadi Pulau Surga tetapi Pulau Neraka akibat ulah masyarakatnya sendiri, Bali sedang menggali kuburnya sendiri jika tidak dihentikan dari sekarang!
Sumber : Kompas.com, beritabali.com
No comments
Post a Comment