
Kemarin saya diundang oleh 2 staff ke sebuah pesta yang diadakan oleh mereka. Usut demi usut ternyata pesta diadakan untuk merayakan kelulusan wisuda, Seorang staff merayakannya untuk anak dan lainnya untuk merayakan kelulusan istrinya. Untungnya 2 pesta ini diadakan dalam waktu yang berbeda, siang dan malam. Seperti yang sudah saya dengar sebelum bekerja di Timor yaitu budaya disini memang gemar berpesta maka saya tidak heran kalau wisuda dirayakan begitu meriahnya. Berbeda dengan keberhasilan wisuda saya, paling untung cuma dapet selamat dari orang yang mengetahui saya wisuda. 2 pesta ini juga berarti penghematan besar bagi saya yang anak kosan karena paling tidak uang urung keluar.
Siang harinya saya bersiap diri untuk mengikuti pesta, persiapannya cukup simpel : kosongkan perut. Saya sudah melihat lalu-lalang orang berpakaian batik yang menuju tempat wisuda dan kebetulan tempatnya berada dekat dengan kantor saya. Tepat jam istirahat saya keluar untuk mencari tempat cuci motor, maklum karena saya orangnya malesan nyuci motor sendiri karena air disini berharga bagaikan nemu 50ribuan di jalan. Sepanjang perjalanan menuju tempat cuci motor saya melihat banyak rumah-rumah yang halamannya sudah terdapat banyak kursi dan sepertinya juga untuk merayakan wisuda untuk anak, istri,atau suaminya. Tepat setelah motor saya bersih karena dicuci, saya segera meluncur bersama staff lainnya ke rumah salah seorang staff yang anaknya berhasil di wisuda.
Konon katanya Wisuda di sini (Universitas Timor) penuh dengan berbagai masalah seperti tercantumnya nama Mahasiswa yang tugas akhir saja tidak selesai. Entahlah, yang penting saya makan enak dan hati riang. Sesampainya di rumah staff, saya langsung disorongi buah pinang dan buah sirih. Memang tradisi disini untuk memberikan sambutan buah-buah tersebut kepada tamu yang baru datang. Saya memberikan buahnya ke staff lain yang memang biasa makan karena saya sudah pernah mencobanya dan tidak enak sama sekali. Memakan buah ini membuat kita terus meludah. Apalagi buah sirih, rasanya sangat sepat dan pedas, tetapi keduanya bisa menguatkan gigi dan merupakan obat. Hidangan sambutan ini makin terasa lengkap ketika dicampur kapur sirih yang membuat seisi mulut berwarna merah, termasuk gigi. Di Bali, hidangan ini hanya dimakan oleh orang yang sudah tua. Balik lagi ke pesta, untuk ukuran pesta memang pesta yang saya datangi ini masih dalam taraf biasa-biasa saja. Beberapa saat kemudian saya dipersilahkan makan dengan menu yang juga tidak wah. Sebagai penutup, alkohol memang selalu menjadi pilihan orang sini. Bir dan Sophi (sejenis minuman beralkohol dan di Bali dikenal dengan nama tuak) diberikan kepada para tamu. Saya hanya minum bir satu gelas kecil, walaupun saya boleh minum minuman beralkohol tetapi saya bukanlah peminum. Sepanjang syukuran selalu disetel musik lokal dengan suara yang sangat keras, usut demi usut ini juga memang tradisi. Bahkan dulu semasa tape belum ada maka dipakai gitar, mungkin dulu suasananya serasa makan sambil diiringi alunan biola di restoran high class, hehe.
Langsung skip ke pesta kedua, sebelum berangkat saya menyadari salah kostum karena staff lain semuanya berbatik ria lengkap dengan sepatu pantofle. Sementara saya malah siap dengan baju kaos joger, celana jeans, dan sendal gunung. Maka dari itu saya langsung menggantinya dengan setelan kemeja, rompi, dan sepatu kets. Saya hanya ingin membedakan penampilan agar tidak terlihat tua, saya masih 22 tahun gitu loh. Dilihat dari setelan pakaian staff lainnya, saya rasa pesta kali ini akan berbeda dengan pesta tadi siang. Dan betul prediksi saya, sesampainya di tempat pesta saya melihat banyak orang berpakaian resmi dan hidangannya pun mewah-mewah, oke, ketahuan deh ngelirik makanan sedari dateng :p . Pesta dimulai dengan sambutan dari sang wisudawan, yang notabene adalah istri dari staff di kantor saya. Ini serasa sambutan seseorang yang menerima award. Setelah sambutan dari wisudawan dilanjutkan dengan sambutan dari kepala kantor dari si istri. Kemudian acara selanjutnya adalah yang saya tunggu-tunggu yaitu makan. Kebetulan si istri staff berasal dari Timor Leste namun memilih ikut Indonesia ketimbang Timor Leste. Oleh karena itu makanan dan minuman yang dihidangkanpun khas orang Timor Leste yang lagi pesta yaitu nasi goreng, puding, dan Tintu (sejenis anggur). Lauk pauk yang disajikan begitu bervariasinya, saya tentu saja banyak akal dengan hanya mengambil sedikit nasi dan semua macam lauk, kapan lagi anak kosan bisa makan lauk seenak ini. Saya tertarik mencoba Tintu, setelah saya ketahui bahwa nilai alkoholnya di bawah Sophi maka saya memberanikan diri untuk minum segelas Tintu (setengah gelas 2 kali). Sehabisnya saya minum Tintu dan kembali duduk, saya ditanyai seorang Ibu-ibu tua yang sepertinya juga berasal dari Timor Leste.
Ibu tua : “Nak, minum Tintu itu gak segelas langsung gitu, minumnya dikit-dikit aja”
Saya : “Oh begitu ya bu, maklum baru nyoba, emang efeknya apa?”
Ibu tua : “Nanti deh pasti tengkuk dan telinga hangat, kepala agak puyeng”
Saya : “Haaaaaaaaah??!”
Saya baru ingat kalau di film-film luar sana kalau minum anggur biasanya hanya seiprit dan gak seperti saya yang setengah gelas. Dan benar saja, beberapa menit kemudian tengkuk dan kuping terasa hangat lalu diikuti kepala agak puyeng beberapa menit kemudian. Selama saya agak puyeng, acara dilanjutkan dengan dansa Tebe yaitu dansa ala Timor Leste dimana setiap orang melingkar dan saling berpegangan tangan lalu memutar sambil menggerakkan kaki gaya menendang bola dengan diiringi sebuah musik. Setelah dansa Tebe lalu semua tamu dipersilahkan untuk berdansa di tengah halaman kosong yang telah dipersiapkan. Ini sebenarnya kesempatan untuk mendekati lawan jenis, paling tidak begitu kata teman saya. Memang saya melihat 3 wanita cantik dan saya tertarik untuk mengajaknya dansa, tetapi saya khawatir dengan kepala puyeng bisa-bisa saya malah breakdance solo di tengah panggung. Jam sudah menunjukkan pukul 10 malam, saya dan teman-teman lainnya pamit karena saya sendiri merasa kepala sudah rindu dengan bantal. Sepanjang perjalanan membawa motor kondisi saya baik-baik saja, belum bisa dikatakan mabuk karena saya masih bisa mengendalikan badan dengan benar dan berbicara dengan baik.
Budaya pesta di Timor sepertinya dibawa oleh orang-orang Eropa. Seperti yang sudah kita ketahui bahwa Timor bagian barat dulu dijajah Belanda dan bagian timurnya (Timor Leste) dijajah oleh Portugal. Maka tak heran jika terdapat kemiripan budaya pesta seperti anggur, dansa, dan musik. Orang juga sering heran mengapa orang Timor masih mengatakan dirinya miskin tetapi saya tahu sekarang karena pesta-pesta seperti ini juga tidak ditanggungnya sendiri. Pesta model begini juga merupakan sosialisasi dan wujud kebersamaan orang sini sehingga nantinya ketika ada kejadian seperti anggota keluarga menikah, sakit, bahkan meninggal maka jiwa sosial setiap kerabat akan sangat tinggi. Jika boleh dibandingkan maka budayanya mirip dengan orang Bali dimana jika ada pernikahan atau kematian maka setiap keluarga harus ada wakil untuk membantu orang yang memiliki hajat. Mungkin budaya sosialisasi seperti ini juga sama saja di seluruh Indonesia dan yang beda mungkin hanya masalah kemasannya. Seperti para perantau lainnya, sayapun harus bisa menyesuaikan bagaimana budaya masing-masing orang. Kalau diajak pesta ya ikut pesta, saya sih senang aja :)
Note : Mengapa saya katakan Timor? bukan NTT? karena saya tinggal di Pulau Timor tepatnya Kabupaten Timor Tengah Utara yang merupakan bagian dari NTT dan saya tidak tahu apakah budaya seperti ini juga ada di Flores sana. Sebagai catatan juga bahwa di pesta yang mewah terdapat masakan berbahan Babi, jadi bagi sahabat muslim yang pengen melancong ke Timor dan ikut dalam suatu pesta maka ini harus diperhatikan selain dengan minuman alkohol yang selalu ada. Dan terakhir, hati-hati dengan anjing karena selain menjadi piaraan, hewan ini juga berakhir di wajan.
Siang harinya saya bersiap diri untuk mengikuti pesta, persiapannya cukup simpel : kosongkan perut. Saya sudah melihat lalu-lalang orang berpakaian batik yang menuju tempat wisuda dan kebetulan tempatnya berada dekat dengan kantor saya. Tepat jam istirahat saya keluar untuk mencari tempat cuci motor, maklum karena saya orangnya malesan nyuci motor sendiri karena air disini berharga bagaikan nemu 50ribuan di jalan. Sepanjang perjalanan menuju tempat cuci motor saya melihat banyak rumah-rumah yang halamannya sudah terdapat banyak kursi dan sepertinya juga untuk merayakan wisuda untuk anak, istri,atau suaminya. Tepat setelah motor saya bersih karena dicuci, saya segera meluncur bersama staff lainnya ke rumah salah seorang staff yang anaknya berhasil di wisuda.
Konon katanya Wisuda di sini (Universitas Timor) penuh dengan berbagai masalah seperti tercantumnya nama Mahasiswa yang tugas akhir saja tidak selesai. Entahlah, yang penting saya makan enak dan hati riang. Sesampainya di rumah staff, saya langsung disorongi buah pinang dan buah sirih. Memang tradisi disini untuk memberikan sambutan buah-buah tersebut kepada tamu yang baru datang. Saya memberikan buahnya ke staff lain yang memang biasa makan karena saya sudah pernah mencobanya dan tidak enak sama sekali. Memakan buah ini membuat kita terus meludah. Apalagi buah sirih, rasanya sangat sepat dan pedas, tetapi keduanya bisa menguatkan gigi dan merupakan obat. Hidangan sambutan ini makin terasa lengkap ketika dicampur kapur sirih yang membuat seisi mulut berwarna merah, termasuk gigi. Di Bali, hidangan ini hanya dimakan oleh orang yang sudah tua. Balik lagi ke pesta, untuk ukuran pesta memang pesta yang saya datangi ini masih dalam taraf biasa-biasa saja. Beberapa saat kemudian saya dipersilahkan makan dengan menu yang juga tidak wah. Sebagai penutup, alkohol memang selalu menjadi pilihan orang sini. Bir dan Sophi (sejenis minuman beralkohol dan di Bali dikenal dengan nama tuak) diberikan kepada para tamu. Saya hanya minum bir satu gelas kecil, walaupun saya boleh minum minuman beralkohol tetapi saya bukanlah peminum. Sepanjang syukuran selalu disetel musik lokal dengan suara yang sangat keras, usut demi usut ini juga memang tradisi. Bahkan dulu semasa tape belum ada maka dipakai gitar, mungkin dulu suasananya serasa makan sambil diiringi alunan biola di restoran high class, hehe.
Langsung skip ke pesta kedua, sebelum berangkat saya menyadari salah kostum karena staff lain semuanya berbatik ria lengkap dengan sepatu pantofle. Sementara saya malah siap dengan baju kaos joger, celana jeans, dan sendal gunung. Maka dari itu saya langsung menggantinya dengan setelan kemeja, rompi, dan sepatu kets. Saya hanya ingin membedakan penampilan agar tidak terlihat tua, saya masih 22 tahun gitu loh. Dilihat dari setelan pakaian staff lainnya, saya rasa pesta kali ini akan berbeda dengan pesta tadi siang. Dan betul prediksi saya, sesampainya di tempat pesta saya melihat banyak orang berpakaian resmi dan hidangannya pun mewah-mewah, oke, ketahuan deh ngelirik makanan sedari dateng :p . Pesta dimulai dengan sambutan dari sang wisudawan, yang notabene adalah istri dari staff di kantor saya. Ini serasa sambutan seseorang yang menerima award. Setelah sambutan dari wisudawan dilanjutkan dengan sambutan dari kepala kantor dari si istri. Kemudian acara selanjutnya adalah yang saya tunggu-tunggu yaitu makan. Kebetulan si istri staff berasal dari Timor Leste namun memilih ikut Indonesia ketimbang Timor Leste. Oleh karena itu makanan dan minuman yang dihidangkanpun khas orang Timor Leste yang lagi pesta yaitu nasi goreng, puding, dan Tintu (sejenis anggur). Lauk pauk yang disajikan begitu bervariasinya, saya tentu saja banyak akal dengan hanya mengambil sedikit nasi dan semua macam lauk, kapan lagi anak kosan bisa makan lauk seenak ini. Saya tertarik mencoba Tintu, setelah saya ketahui bahwa nilai alkoholnya di bawah Sophi maka saya memberanikan diri untuk minum segelas Tintu (setengah gelas 2 kali). Sehabisnya saya minum Tintu dan kembali duduk, saya ditanyai seorang Ibu-ibu tua yang sepertinya juga berasal dari Timor Leste.
Ibu tua : “Nak, minum Tintu itu gak segelas langsung gitu, minumnya dikit-dikit aja”
Saya : “Oh begitu ya bu, maklum baru nyoba, emang efeknya apa?”
Ibu tua : “Nanti deh pasti tengkuk dan telinga hangat, kepala agak puyeng”
Saya : “Haaaaaaaaah??!”
Saya baru ingat kalau di film-film luar sana kalau minum anggur biasanya hanya seiprit dan gak seperti saya yang setengah gelas. Dan benar saja, beberapa menit kemudian tengkuk dan kuping terasa hangat lalu diikuti kepala agak puyeng beberapa menit kemudian. Selama saya agak puyeng, acara dilanjutkan dengan dansa Tebe yaitu dansa ala Timor Leste dimana setiap orang melingkar dan saling berpegangan tangan lalu memutar sambil menggerakkan kaki gaya menendang bola dengan diiringi sebuah musik. Setelah dansa Tebe lalu semua tamu dipersilahkan untuk berdansa di tengah halaman kosong yang telah dipersiapkan. Ini sebenarnya kesempatan untuk mendekati lawan jenis, paling tidak begitu kata teman saya. Memang saya melihat 3 wanita cantik dan saya tertarik untuk mengajaknya dansa, tetapi saya khawatir dengan kepala puyeng bisa-bisa saya malah breakdance solo di tengah panggung. Jam sudah menunjukkan pukul 10 malam, saya dan teman-teman lainnya pamit karena saya sendiri merasa kepala sudah rindu dengan bantal. Sepanjang perjalanan membawa motor kondisi saya baik-baik saja, belum bisa dikatakan mabuk karena saya masih bisa mengendalikan badan dengan benar dan berbicara dengan baik.
Budaya pesta di Timor sepertinya dibawa oleh orang-orang Eropa. Seperti yang sudah kita ketahui bahwa Timor bagian barat dulu dijajah Belanda dan bagian timurnya (Timor Leste) dijajah oleh Portugal. Maka tak heran jika terdapat kemiripan budaya pesta seperti anggur, dansa, dan musik. Orang juga sering heran mengapa orang Timor masih mengatakan dirinya miskin tetapi saya tahu sekarang karena pesta-pesta seperti ini juga tidak ditanggungnya sendiri. Pesta model begini juga merupakan sosialisasi dan wujud kebersamaan orang sini sehingga nantinya ketika ada kejadian seperti anggota keluarga menikah, sakit, bahkan meninggal maka jiwa sosial setiap kerabat akan sangat tinggi. Jika boleh dibandingkan maka budayanya mirip dengan orang Bali dimana jika ada pernikahan atau kematian maka setiap keluarga harus ada wakil untuk membantu orang yang memiliki hajat. Mungkin budaya sosialisasi seperti ini juga sama saja di seluruh Indonesia dan yang beda mungkin hanya masalah kemasannya. Seperti para perantau lainnya, sayapun harus bisa menyesuaikan bagaimana budaya masing-masing orang. Kalau diajak pesta ya ikut pesta, saya sih senang aja :)
Note : Mengapa saya katakan Timor? bukan NTT? karena saya tinggal di Pulau Timor tepatnya Kabupaten Timor Tengah Utara yang merupakan bagian dari NTT dan saya tidak tahu apakah budaya seperti ini juga ada di Flores sana. Sebagai catatan juga bahwa di pesta yang mewah terdapat masakan berbahan Babi, jadi bagi sahabat muslim yang pengen melancong ke Timor dan ikut dalam suatu pesta maka ini harus diperhatikan selain dengan minuman alkohol yang selalu ada. Dan terakhir, hati-hati dengan anjing karena selain menjadi piaraan, hewan ini juga berakhir di wajan.
No comments
Post a Comment